Rabu, 19 Oktober 2016

Asuhan Keperawatan Dengan Atrial Septum Defect (ASD)



BAB I
PENDAHULUAN

1.        LATAR BELAKANG
ASD menunjukkan terdapatnya (lubang) abnormal antara atrium kanan dan atrium kiri yang tidak ditutup oleh katup. Berdasarkan letak defek dikenal defek sinus venosus, defek ostium sekundum, dan defek ostium primum. Atrium septal defect merupakan adanya hubungan ( lubang ) abnormal pada sekat yang memerlukan pembedahan jantung terbuka adalah defek sekat atrium. Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara serambi jantung kanan dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan pembekuan sekat. Defek ini dapat berupa defek sinus venosus di dekat muara vena kava superior, foramen ovale terbuka pada umumnya menutup spontan setelah kelahiran, defek septum sekunder yaitu kegagalan pembentukan septum sekunder dan efek septum primum adalah kegagalan penutupan septum primum yang letaknya dekat sekat antara bilik atau pada bantalan endokard. Macam-macam defek sekat ini harus ditutupi dengan tindakan bedah sebelum terjadinya pembalikan aliran darah melalui pintasan ini dari kanan ke kiri sebagai tindakan timbulnya syndrome Eisemenger. Bila sudah terjadi pembalikan aliran darah, maka pembedahan dikontraidikasikan. Tindakan bedah berupa penutupan dengan menjahit langsung dengan jahitan jelujur atau dengan menambah defek dengan sepotong dakron.

2.        TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
a.       Memperoleh gambaran mengenai penyakit Atrial Septum Defect (ASD),
b.      Untuk mengetahui bagaimana terjadinya penyakit Atrial Septum Defect pada anak.
c.       Untuk mengetahui tanda dan gejala yang timbul pada penyakit Atrial Sepptum Defect (ASD), Pembagian serta bagaimana memberikan penanganan yang tepat.

3.        MANFAAT PENULISAN
a.       Agar kita dapat mengetahui penyebab Atrial Septum Defect,
b.      Agar kita dapat mengetahui cara pemberian asuhan keperawatan, yang tepat pada klien dengan penyyakit Atrial Septum Defect (ASD).


4.        SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari tiga (3) bab, yaitu:
BAB I PENDAHULUAN
Berisi mengenai Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan Dan Sistematika Penulisan.
BAB II TINJAUAN TEORI
Berisi mengenai Pengertian, Klasifikasi, Anatomi Fisiologi, Etiologi, Patofisiologi, Manifestasi Klinis, Pemeriksaan Diagnostik, Penatalaksanaan Medis Dan Komplikasi
BAB III KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
Berisi mengenai Pengkajian, Diagnosa keperawatan, Intervensi keperawatan.
BAB IV PENUTUP
Berisi mengenai Kesimpulan Dan Saran






















BAB II
TINJAUAN TEORI

1.        PENGERTIAN
1)      Atrial Septal Defect (ASD) adalah terdapatnya hubungan antara atrium kanan dengan atrium kiri yang tidak ditutup oleh katup ( Markum. 1991)
2)      ASD adalah defek pada sekat yang memisahkan atrium kiri dan kanan. (Sudigdo Sastroasmoro, Kardiologi Anak. 1994)

2.        KLASIFIKASI
1). Ostium sekundum
Tipe yang paling sering muncul dengan angka kejadian 6-10% dari kelainan jantung kongenital. Kelainan ini dapat disebabkan oleh penyempitan foramen ovale, pertumbuhan tidak adekuat dari septum sekundum dan kelebihan absorbsi dari septum primum,10-20% penderita kelainan ini juga menderita peolaps katup mitral. Kelainan ini tidak menimbulkan gejala (asimptomatik), tetapi gejala akan muncul pada usia empat puluhan dengan tanda penurunan toleransi terhadap latihan, cepat lelah, palpitasi dan pingsan. Komplikasi yang dapat terjadi dari kelainan ini adalah hipertensi pulmonal, stroke,flutter dan sindrom eisenmengers.
2). Osteum primum
Bila lubang terletak di daerah ostium primum, yang mana ini termasuk salah satu bentuk Atrio-Ventrikular Septal Defect(AVSD)
3). Sinus venosus
Sinus venosus ASD adalah suatu jenis defek sekat atrial yang menyeberang dengan kecacatan di dalam sekat dan mempengaruhi aliran pembuluh darah baik vena kava superior maupun vena kava inferior. Sinus venosus terletak biasanya pada persimpangan vena kava superior dengan atrium kanan, hal ini sering dihubungkan dengan anomali drainase dari vena pulmonary ke atrium kanan.

3.        ANATOMI FISIOLOGI
Aliran pirau kiri ke kanan melewati defect septum atrium mengakibatkan kelebihan beban volume pada atrium kanan ventrikel kanan dan sirkulasi pulmonal. Volume pirau dapat dihitung dari curah jantung dan jumlah peningkatan saturasi O2 pada atrium kanan pada stadium awal tekanan dalam sisi kanan jantung tidak meningkatkan dengan berlalunya waktu dapat terjadi perubahan vascular pulmonal. Arah aliran yang melewati pirau dapat terjadi pada hipertensi pulmonal berat.
4.        ETIOLOGI
Penyebab secara pasti belum diketahui tetapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain :
1) Faktor genetik : Kelainan kromosom seperti pada down syndrom, tuner syndrom dan lain – lain.
2) Faktor lingkungan : gangguan sirkulasi utero placentair.
3) Pada saat hamil ibu menderita pubella, ibu hamil yang alkoholik, usia ibu yang saat hamil lebih dari 40 tahun.

5.        PATOFISIOLOGI
Darah arterial dari atrium kiri masuk ke atrium kanan. Aliran tidak deras karena perbedaan tekanan atrium kiri dan kanan tidak besar (tekanan atrium kiri lebih besar dari tekanan atrium kanan. Beban pada atrium kanan, atrium pulmonalis kapiler paru, dan atrium kiri meningkat, sehingga tekanannya meningkat. Tahanan katup pulmonal naik, timbul bising sistolik karena stenosis relative katup pulmonal. Juga terjadi stenosis relative katup trikuspidal, sehingga terdengar bising diastolik. Penambahan beban atrium pulmonal bertambah, sehingga tahanan katup pulmonal meningkat dan terjadi kenaikan tekanan ventrikel kanan yang permanen. Kejadian ini berjalan lambat.
Pada ASD primum bias terjadi insufisiensi katup mitral atau trikuspidal sehingga darah dari ventrikel kiri atau kanan kembali ke atrium kiri atau kanan saat sistol.

6.        MANIFESTASI KLINIS
1)      Sebagian besar pasien dengan defek yang ringan atau sedang tidak menunjukkan gejala.
2)      Pada pirau yang besar, timbul dispnea pada saat aktifitas, gagal jantung dan infeksi saluran nafas
3)      Terdengan murmur ejeksi sistolik yang cukup keras di sela iga kedua dan ketiga akibat peningkatan aliran arteri pulmonalis.
4)      Pada pemeriksaan palpasi terdapat kelainan ventrikel kanan yang hiperdinamik di parasternal kiri.
5)      Pada auskultasi terjadi bunyi jantung dua tanpa bising






7.        PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.      Elektrokardiografi
Menunjukkan aksis ke kanan akibat defek ostium primum, blok bundle kanan, hipertrofi ventrikel kanan, interval PR memanjang, aksis gelombang P abnormal.
2.       Foto rontgen dada
a.    Pada foto lateral terlihat daerah retrosternal terisi, akibat pembesaran   ventrikel kanan.
b.    Dilatasi atrium kanan
c.    Segmen pulmonal menonjol, corakan vascular varu prominen
3.       Ekokardiografi
a.    Dengan mengunakan ekokardiografi trastorakal (ETT) dan Doppler berwarna dapat ditentukan lokasi defek septum, arah pirau, ukuran atrium dan ventrikel kanan, keterlibatan katub mitral misalnya proplaps yang memang sering terjadi pada ASD.
b.    Ekokardiografi transesofageal (ETE) dapat dilakukan pengukuran besar defek secara presisi sehingga dapat membantu dalam tindakan penutupan ASD perkutan, juga kelaina yang menyertai.
4.      Katerisasi jantung
Pemeriksaan ini digunakan untuk:
a.       Melihat adanya peningkatan saturasi oksigen di atrium kanan.
b.      Mengukur rasio besarnya aliran pulmonal dan sistemik.
c.       Menetapkan tekanan dan resistensi arteri pulmonal.
d.      Evaluasi anomaly aliran vena pulmonalis
5.      Magnetic resonance imaging
a.    Sebagai tambahan dalam menentukan adanya dan lokasi ASD.
b.    Evaluasi anomali aliran vena, bila belum bisa dibuktikan dengan modalitasi lain.

8.        PENATALAKSANAAN MEDIS
ASD kecil tidak perlu oprasi karena tidak menyebabkan gangguan hemodinamik atau bahaya endokarditis infektif. ASD besar perlu tindakan bedah yang dianjurkan dilakukan dibawah umur 6 tahun (pra sekolah). Walaupun setelah operasi kemungkinan ventrikel kanan masih menunjukkan dilatasi. Hal ini karena komplien otot jantung sudah berkurang. Pada penutupan spontan ASD sangat kecil kemungkinannya sehingga operasi sangat berarti. Defek fosa ovalis atau defek atrioventrikuler dengan komplikasi ditutup dengan bantuan mesin jantung paru.

9.        KOMPLIKASI
1)      Gagal jantung
2)      Endokarditis
3)       Aritmia


































BAB III
KANSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1.    PENGKAJIAN
1). Pengkajian Umum
(1) Keluhan Utama
Keluhan orang tua pada waktu membawa anaknya ke dokter tergantung dari jenis defek yang terjadi baik pada ventrikel maupun atrium, tapi biasanya terjadi sesak, pembengkakan pada tungkai dan berkeringat banyak.
(2) Riwayat Kesehatan
a.  Riwayat kesehatan sekarang
          Anak mengalami sesak nafas berkeringat banyak dan pembengkakan pada tungkai tapi biasanya tergantung pada derajat dari defek yang terjadi.
b.  Riwayat kesehatan lalu
a) Prenatal History
Diperkirakan adanya keabnormalan pada kehamilan ibu (infeksi virus Rubella), mungkin ada riwayat pengguanaan alkohol dan obat-obatan serta penyakit DM pada ibu.
b) Intra natal
Riwayat kehamilan biasanya normal dan diinduksi.
c) Riwayat Neonatus
 Gangguan respirasi biasanya sesak, takipnea
 Anak rewel dan kesakitan
 Tumbuh kembang anak terhambat
 Terdapat edema pada tungkai dan hepatomegali
 Sosial ekonomi keluarga yang rendah.
c.  Riwayat Kesehatan Keluarga
a) Adanya keluarga apakah itu satu atau dua orang yang mengalami kelainan defek jantung
b) Penyakit keturunan atau diwariskan
c) Penyakit congenital atau bawaan





(3) Sistem yang dikaji:
a. Pola Aktivitas dan latihan
a) Keletihan/kelelahan
b) Dispnea
c) Perubahan tanda vital
d) Perubahan status mental
e) Takipnea
f) Kehilangan tonus otot

b. Pola persepsi dan pemeriksaan kesehatan
a) Riwayat hipertensi
b) Endokarditis
c) Penyakit katup jantung.
c. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress
a) Ansietas, khawatir, takut
b) Stress yang b/d penyakit
d. Pola nutrisi dan metabolik
a) Anoreksia
b) Pembengkakan ekstremitas bawah/edema
e. Pola persepsi dan konsep diri
a) Kelemahan
b) pening
f. Pola peran dan hubungan dengan sesama
          Penurunan peran dalam aktivitas sosial dan keluarga

2) Pengkajian Fisik
a. Inspeksi
Pertumbuhan badan jelas terhambat, pucat dan banyak keringat bercucuran. Ujung-ujung jari hiperemik, diameter dada bertambah, nafas pendek, retraksi pada vena jugulum, sela interkostal dan region epigastrium. Pada anak kurus terlihat impuls jantung yang hiperdinamik
b. Palpasi
Impuls jantung hiperdinamik kuat terutama yang timbul dari ventrikel kiri. Teraba getaran bising pada dinding dada, pada DSA getaran bising teraba di sela iga ke II atau III kiri. Pada defek yang sangat besar sering tidak teraba getaran bising karena tekanan di ventrikel kiri sama dengan tekanan di ventrikel kiri. Teraba tepi hati tumpul di bawah lengkung iga kanan
c. Auskultasi
Pada DSA terdapat split bunyi jantung 2 tanpa bising sering menunjukkan gejala pertama dan salah satunya petunjuk akan DSA. Jarak antara komponen aorta pulmonal bunyi jantung 2 pada inspirasi dan ekspirasi tetap sama sehingga disebut “fixed splitting” . Bising sistolik dan pada pirau kiri ke kanan yang besar maka bising mik diastolic berfrekuensi rendah terdengar pada sela iga ke IV kiri atau kanan.

3)      Pemeriksaan Diagnostik
Ekokardiografi dapat menunjukkan beban volume ventrikel kanan
Ø yang berlebihan dengan adanya ventrikel dan atrium kanan yang membesar, dan kadang-kadang tampak defeknya itu sendiri.
 Echo transesofageal dapat meningkatkan sensitivitas akan adanya pirau yang kecil dan foramen ovale paten.
 Aliran radionuklir menilai besarnya pirau dari kiri ke kanan.
 MRI untuk menjelaskan anatominya.
 Kateterisasi jantung, masih merupakan diagnostik pasti, karena dapat
menunjukkan dengan jelas adanya peningkatan saturasi oksigen antara vena cava dan ventrikel kanan akibat bercampurnya darah mengandung oksigen dari atrium kiri, menilai beratnya pirau dan mengukur tahanan vascular darah pulmonary.
 Angiografi kontras ventrikel kanan dan ventrikel kiri dapat menunjukkan kelainan katup terkait atau anomaly aliran vena pulmonalis.

2.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
1)      Penurunan curah jantung b/d Malformasi jantung.
2)      Gangguan pertukaran gas b/d kongesti pulmonal.
3)      Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan rasio ventilasi perfusi.
4)      Gangguan tumbuh kembang b/d tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan.
5)      Kerusakan integritas kulit b/d edema dan gangguan perfusi jaringan.
6)      Ansietas b/d status hospitalisasi anak, kurang pengetahuan orang tua tentang kondisi anaknya.



3.    INTERVENSI KEPERAWATAN
Dx I Penurunan curah jantung b/d Malformasi jantung.
Tujuan: Klien menunjukkan tanda vital dalam batas yang normal yang ditandai dengan: disritmia terkontrol, tidak sesak, bebas dari gagal jantung.
Intervensi:
1)      Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung, nadi perifer, warna dan kehangatan kulit.
Rasional : Penurunan curah jantung dapat menunjukan menurunnya nadi perifer. Pucat menunjukan menurunnya perfusi perifer sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung.
2)      Tegakkan derajat sianosis (sirkumoral, membrane mukosa, clubbing).
Rasional : Sianosis dapat terjadi sebagai refraktori GJK. Area yang sakit sering berwarnabiru atau belang karena peningkatan kongesti vena.
3)      Monitor tanda-tanda CHF (gelisah, tachikardia, tachipnea, sesak, lelah saat minum susu, periorbital edema, oliguria)
Rasional : Tanda-tanda CHF merupakan indikator penilaian terhadap adanya gagal jantung dan untuk menentukan intervensi selanjutnya.
4)      Berkolaborasi dalam pemberian digoxin order, dengan menggunakan teknik pencegahan bahaya toksisitas.
Rasional : Insiden toksisitas tinggi (20%) karena sempitnya batas antara rentang terapeutik dan toksik. Digoxin harus dihentikan pada adanya kadar obat toksik, frekuensi jantung lambat.
5)      Berikan pengobatan untuk menurunkan after load.
Rasional : Obat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup, memperbaiki kontraktilitas dan menurunkan kongesti.
6)      Berikan diuretika sesuai indikasi.
Rasional : Tipe dan dosis diuretic tergantung pada gagal jantung. Penurunan pre load paling banyak digunakan dalam mengobati pasien dengan curah jantung relative normal ditambah dengan gejala kongesti.
Dx II Gangguan pertukaran gas b/d kongesti pulmonal.
Tujuan:  Klien dapat menunjukan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat pada jaringan serta tidak adanya peningkatan resistensi pembuluh paru, yang ditandai dengan klien bebas dari gejala distress pernapasan.
Intervensi:
1) Monitor kualitas dan irama pernapasan.
Rasional : Jalan napas yang kolaps dapat menurunkan jumlah alveoli yang berfungsi, secara negative mempengaruhi pertujaran gas.
2) Berikan posisi semi fowler.
Rasional : Menurunkan konsumsi atau kebutuhan oksigen dan mempermudah pernapasan yang meningkatkan kenyamanan fisiologi dan psikologi.
3) Anjurkan kepada klien untuk istirahat yang cukup.
Rasional : Istirahat akan membantu respon klien terhadap aktivitas dan kemampuan berpartisipasi dalam perawatan.
4) Anjurkan klien untuk batuk efektif, napas dalam.
Rasional : Membersihkan jalan napas dan memudahkan aliran oksigen.
5) Berikan oksigen jika ada indikasi.
Rasional : Meningkatkan konsentrasi oksigen alveolar, yang dapat memperbaiki atau menurunkan hipoksemia jaringan.
6) Berikan obat diuretika seperti lasix.
Rasional : Menurunkan kongesti alveolar, meningkatkan pertukaran gas.

Dx III Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan rasio ventilasi perfusi.
Tujuan: Klien dapat mempertahankan aktivitas yang adekuat dan anak akan berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan oleh anak seusianya, yang ditandai dengan menurunkan kelemahan dan kelelahan serta tanda vital dalam batas normal selama beraktivitas.
Intervensi:
1) Periksa tanda vital sebelum dan selama aktivitas, terutama bila pasien menggunakan vasodilator atau diuretik.
Rasional : Tanda-tanda vital dapat berubah setelah melakukan suatu aktivitas efek akibat obat (vasodilatasi), perpindahan cairan (diuretik) dapat mempengaruhi fungsi jantung.
2) Ijinkan anak untuk beristirahat, dan hindarkan gangguan pada saat tidur.
Rasional : Dengan memenuhi istirahat tidur dapat menghemat energi dan membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
3) Anjurkan untuk melakukan permainan dan aktivitas ringan.
Rasional : Dengan permainan dan aktivitas ringan dapat mencegah kerja jantung secara tiba-tiba.
4) Berikan periode istirahat setelah melakukan aktivitas.
Rasional : Memenuhi kebutuhan aktivitas atau permainan anak tanpa mempengaruhi stress miokard atau kebutuhan oksigen yang berlebihan.
5) Hindarkan suhu lingkungan yang terlalu panas atau dingin.
Rasional : Suhu lingkungan yang panas atau dingin dapat mengganggu rasa aman nyaman anak sehingga ia sering malas untuk beraktivitas.

Dx IV Gangguan tumbuh kembang b/d tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan.
Tujuan: Klien dapat mempertahankan berat badan dan tinggi badan yang sesuai yang ditandai dengan BB dan TB dalam batas normal.
Intervensi:
1) Sediakan diit yang seimbang, tinggi zat-zat nutrisi.
Rasional : Untuk memaksimalkan kualitas masukan nutrisi sehingga dapat mempertahankan berat badan dan membantu didalam perkembangan otak.
2) Monitor tinggi dan berat badan.
Rasional : Sebagai suatu indikator atau petunjuk pertumbuhan dan perkembangan anak yang terjadi.
3) Jelaskan pada orang tua mengenai tumbang anak
Rasional : Agar orang tua dapat mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan anaknya, sehingga dapat berperan serta dalam pemberian pengobatan atau terapi.
4) Ciptakan lingkungan yang tenang.
Rasional : Untuk memenuhi istirahat/relaksasi klien secara optimal
5) Berikan oksigen 1-2 liter per menit.
Rasional : Memenuhi sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard guna melawan efek hipoksia atau iskemik.

Dx V Kerusakan integritas kulit b/d edema lokal
Tujuan: Klien dapat mempertahankan integritas kulitnya yang ditandai dengan anak bebas dari edema, memiliki kulit yang bersih dan utuh, integritas kulit terjamin.
Intervensi:
1) Kaji kulit, catat adanya penonjolan tulang, edema area sirkulasi terganggu/pigmentasi.
Rasional : Kulit sangat beresiko karena gangguan sirkulasi perifer, imobilitas fisik dan gangguan status nutrisi.
2) Pijat area kemerahan atau yang memutih.
Rasional : Meningkatkan aliran darah, dan meminimalkan hipoksia jaringan.
3) Ubah posisi sesering mungkin di tempat tidur/kursi, bantu latihan rentang gerak pasif/aktif.
Rasional : Memperbaiki sirkulasi/menurunkan waktu satu area yang mengganggu aliran darah.
4) Berikan perawatan kulit kering dan meminimalkan dengan keadaan lembab/ekskresi.
Rasional : Kulit yang terlalu kering atau lembab dapat mempercepat proses kerusakan.
5) Hindari pemberian obat intramuskuler.
Rasional : Edema interstisial dan gangguan sirkulasi memperlambat absorbsi obat dan merupakan faktor predisposisi untuk kerusakan kulit.

Dx VI Ansietas b/d status hospitalisasi anak, kurang pengetahuan orang tua tentang kondisi anaknya.
Tujuan: Klien dan orang tua tidak menunjukkan kecemasan, ditandai dengan anak dapat berespon terhadap prosedur pengobatan, orang tua akan mengekspresikan perasaaannya karena memiliki anak dengan kelainan jantung, mendiskusikan rencana pengobatan, dan memiliki keyakinan bahwa orang tua memiliki peranan penting dalam keberhasilan pengobatan.
Intervensi:
1) Jelaskan prosedur dengan cermat sesuai dengan tingkat pemahaman anak.
Rasional : Untuk menurunkan rasa takut atau cemas terhadap hal-hal yang tidek diketahuinya.
2) Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut, seperti menolak dan marah. Biarkan klien/keluarga mengetahui ini sebagai reaksi normal.
Rasional : Perasaan yang tidak diekspresikan dapat menimbulkan kekacauan internal dan meningkatkan kecemasan.
3) Dorong keluarga untuk menganggap klien seperti sebelumnya
Rasional : Meyakinkan klien dan keluarga bahwa perannya di dalam keluarga tidak berubah.
4) Berikan informasi yang jelas tentang kondisi anaknya
Rasional : Menambah pengetahuan keluarga tentang penyakit anaknya sehingga dapat meminmalkan kecemasannya.
5) Berikan beberapa cara pada anak untuk melibatkannya dalam prosedur, misalnya memegang suatu alat, seperti balutan.
Rasional : Untuk meningkatkan rasa kontrol, mendorong kerja sama dan mendukung keterampilan koping anak.
6) Kaji tingkat pengetahuan klien/keluarga dan keinginannya untuk belajar.
Rasional : Mengidentifikasi secara verbal tingkat pemahaman klien/keluarga serta kesalahpahaman dan memberikan penjelasan.




BAB IV
PENUTUP

1.    KESIMPULAN
Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara serambi jantung kanan dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan pembekuan sekat. Defek ini dapat berupa defek sinus venosus di dekat muara vena kava superior, foramen ovale terbuka pada umumnya menutup spontan setelah kelahiran, defek septum sekunder yaitu kegagalan pembentukan septum sekunder dan efek septum primum adalah kegagalan penutupan septum primum yang letaknya dekat sekat antara bilik atau pada bantalan endokard. Macam-macam defek sekat ini harus ditutupi dengan tindakan bedah sebelum terjadinya pembalikan aliran darah melalui pintasan ini dari kanan ke kiri sebagai tindakan timbulnya syndrome Eisemenger. Bila sudah terjadi pembalikan aliran darah, maka pembedahan dikontraidikasikan. Tindakan bedah berupa penutupan dengan menjahit langsung dengan jahitan jelujur atau dengan menambah defek dengan sepotong dakron.

2.    SARAN
Hendaknya dalam memberikan asuhan keperawatan, mahasiswa/i dapat menerapkan teori dan keterampilan yang diperoleh dibangku kuliah sehingga dapat terjadi kesinambungan dan keterikatan yang erat antara teori dan praktek nyata pada pasien di rumah sakit juga diharapkan agar mahasiswa/i dapat mengadakan pembaharuan melalui pendidikan tinggi keperawatan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar